Kabar Alumni: Aditya Wiralaksana

 

Foto Aditya Wiralaksana IKYEP 2010

Untuk pertama kalinya kolom Kabar Alumni terbit di bulan Januari 2017 ini. Sebagai pembuka, AIKUNA ingin memperkenalkan sosok salah satu “sesepuh” program IKYEP. Aditya Wiralaksana, delegasi angkatan pertama yang berasal dari Jawa Timur ini kini menetap di Surabaya dengan keluarga kecilnya dan memiliki segudang aktifitas. Simak bincang-bincang kami dengan pria yang akrab disapa Kak Adit ini.

Bolehkah diceritakan perjalanan Kak Adit sejak selesai menjalankan IKYEP dan kesibukan apa yang Kakak miliki saat ini?
Sebenernya saat ikut IKYEP saya juga sedang proses mengerjakan tugas akhir. Jadi saat malam selesai aktivitas, selain mengerjakan laporan harian sebagai Youth Leader (YL) 2010, saya juga harus menyicil progress tugas akhir. Empat bulan setelah program alhamdulillah saya diwisuda dari Teknik Sistem Perkapapalan ITS dan tidak lama kemudian dipercaya lagi oleh KEMENPORA untuk ikut program Ketahanan Nasional untuk Pemuda (TANNASDA) di Jakarta serta Kuala lumpur selama dua minggu. Setelah program tersebut selesai barulah disibukkan dengan mencari pekerjaan. Dengan berbagai pertimbangan dan keinginan untuk menimba ilmu lebih banyak, akhirnya saya memilih untuk berangkat ke Tembagapura dan bekerja sebagai engineer tambang PT. Trakindo Utama yang berkantor di PT. Freeport. Selama dua tahun tinggal di Tembagapura, banyak sekali pelajaran hidup yang  didapat, tidak hanya dari sisi teknologi, namun juga kehidupan sosial budaya masyarakat setempat serta politik dan hukum di lingkungan PT. Freeport. Namun saya siap untuk perubahan hidup selanjutnya. Bulan Agustus 2013, saya melakukan perjalanan dari Tembagapura ke Pekanbaru untuk meminang Vivi Yulya, teman sesama delegasi IKYEP 2010. Kami menikah di Pekanbaru pada April 2014 dan kemudian menetap di Surabaya. Setelah itu rasanya pintu-pintu rejeki makin terbuka. Saya mendapatkan beasiswa LPDP untuk berkuliah di MMT ITS jurusan Manajemen Industri, dan saat ini saya beserta empat orang teman saya membuat usaha di bidang pelayaran dan logistik dengan nama PT. Megatrans Buana Samudra yang kami kelola hingga saat ini.

CSR di Timika

Sebenarnya apa sih inti pekerjaan Kakak dan apa kontribusi yang dirasa dapat diberikan oleh bidang Kakak sekarang terhadap pembangunan berkelanjutan?
Pekerjaan saya di bidang perkapalan sebenarnya bukan sebagai pelaut. Namun di bidang supply chain dan transportasi logistik. Prinsipnya mengoptimalkan biaya perjalanan komoditi atau cargo yang dikirimkan melalui jalur laut agar lebih efisien secara ekonomi dan memperpendek waktu tempuh. Tidak semua orang mengetahui proses pengiriman yang efisien dan kapal yang digunakan untuk menempuh rute terpencil. Peran profesi saya disini adalah mengatur proses operasional perjalanan tersebut dan menunjuk agen pelayaran yang ditugaskan untuk mengirim muatan tadi. Jika biaya logistik murah, maka ongkos produksi semakin murah juga. Dampaknya masyarakat daerah juga dapat membeli komoditi tersebut dengan harga yang terjangkau. Selain itu, dengan memperpendek waktu tempuh maka suplai barang ke daerah semakin cepat dan terjaga sehingga tidak sampai terjadi kelangkaan barang di daerah yang seringkali juga menjadi penyebab harga tinggi. Saya pernah mengalami harga bensin 50,000 rupiah per liter, suplai listrik yang bergilir dan mahalnya harga komoditi makanan saat di Timika Papua. Salah satu penyebabnya karena suplai logistik yang kurang lancar. Nah, jangan sampai hal ini terus terjadi dimana-mana. Kontribusi tersebut yang memacu semangat saya untuk terus bergerak di bidang ini.

operasi tambang bawah tanah freeport 3

Kak Adit sekarang juga sedang merintis bisnis bersama teman-teman. Apa yang mendorong Kakak hingga akhirnya memutuskan untuk berwirausaha? Apakah menurut kakak menjadi wirausahawan adalah opsi yang baik untuk anak muda Indonesia dan apakah mungkin ini akan menjadi profesi utama Kakak?
Karena sejak sarjana tugas akhir saya di bidang optimasi distribusi melalui perkapalan dan di magister juga mendapat ilmu supply chain logistic, kemudian juga saat ini berkerja di bidang logistic, saya merasa sudah memiliki beberapa bekal modal usahanya, yaitu ilmu pengetahuan, jaringan dan pengalaman praktis. Saat ini memang sedang menjalani keduanya sebagai karyawan dan wirausahawan, namun sudah direncanakan bahwa tujuan profesi utama nanti adalah wirausahawan. Secara pribadi, saya merasakan memulai bisnis di usia muda adalah hal yang tepat. Pada fase ini energi kita sedang optimal, masih idealis dan selalu haus pengetahuan, sehingga dengan menjadi wirausahawan kita dapat mengaktualisasikan potensi kita. Namun tentu tidak ada salahnya menjadi karyawan, karena kita tetap perlu mengambil pelajaran dari perusahaan yang sudah berjalan baik. Permasalahan bangsa ini masih banyak dan multi prinsipal, sehingga bidang apapun solusi keilmuan yang kita berikan akan sangat bermanfaat, dan menurut saya menjadi wirausahawan adalah salah satu jalan yang paling baik untuk anak muda Indonesia.

Flashback ke masa-masa program, bagaimana sih rasanya menjadi angkatan IKYEP pertama, saat tidak ada alumni untuk bertanya bagaimana harus melakukan tugas, terutama Kakak sebagai Youth Leader?
Menjadi angkatan IKYEP pertama itu penuh surprise. Kami tidak memiliki gambaran pola aktifitasnya pun instansi apa saja yang akan dikunjungi di program. Karena belum memiliki alumni, ketika PDT kami dilatih oleh alumni dari program lain. Alhamdulillah, National Leader kami, Ibu Syukwanilati atau yang akrab dipanggil Bunda Wati, sangat membantu memberikan gambaran tentang rencana program berdasarkan MOU dengan Korea Selatan. Saat di Korea, setiap malam selesai aktivitas kami melakukan evaluasi dan komunikasi dua arah dengan koordinator program dari KEMENPORA di Indonesia, waktu itu adalah Pak Esa Sukmawijaya, untuk menjadi bahan materi bagi KEMENPORA mempersiapkan program fase Indonesia nantinya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 Apa saja hal yang kakak pelajari dari teman-teman sesama delegasi yang sampai sekarang masih diingat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?
Teman-teman 2010 banyak memberi pelajaran bagi saya, kisah perjuangan mereka masing-masing hingga berangkat program dan karakter pribadi yang luar biasa sangat berharga dan menjadi inspirasi. Kedekatan kami selama program terbentuk dari sesi sharing dan evaluasi harian pasca aktivitas. Dengan demikian kami selalu merasa dekat, mengerti kebutuhan yang lain dan memudahkan koordinasi. Banyak mendengar dan menahan ego pribadi untuk mengutamakan kebersamaan menjadi pendukung terbaik kesuksesan pelaksanaan IKYEP 2010.

Selam 1Hal apa yang memotivasi Kak Adit untuk mengejar seluruh prestasi yang sudah Kakak raih? Mulai dari dulu di bidang taekwondo, research, kemudian aktif di kegiatan kepemudaan, dan lainnya?
Saya dulu adalah anak yang kurang percaya diri karena bentuk tubuh saya yang tidak proporsional saat SD-SMP. Lalu saya metuskan untuk ikut olahraga yang terpogram dan akhirnya ikut ekstra beladiri yang kemudian ditekuni dan menghasilkan prestasi. Motivasi utama untuk berkarya sebenarnya bukan untuk mengejar titel juara atau penghargaan, namun ingin banyak berguna untuk lingkungan dan penghargaan adalah bonus saja. Misal, saat ingin menjadi ketua himpunan teknik perkapalan awalnya karena merasa banyak mahasiswa yang kurang mampu dan berpotensi namun tidak terfasilitasi. Selain itu ilmu perkapalan seakan hanya di pelajari di kampus tapi belum memberi manfaat untuk masyarakat nelayan sekitar ITS yang jaraknya sangat dekat. Akhirnya saat aktif di kepengurusan organisasi kami membuat program-program kerja kesejahteraan mahasiswa dan penyuluhan inovasi perkapalan bagi masyarakat sekitar. Kegiatan riset juga sama, karena awalnya melihat ada potensi permasalahan masyarakat yang mungkin bisa kita solusikan. Ternyata dari sana membuka peluang kesempatan lebar bagi diri sendiri, yaitu bertambahnya jaringan pertemanan juga informasi mengenai kesempatan beasiswa dan program bermanfaat lainnya.

 Apakah ada hobi atau kegiatan lain yang Kak Adit gemari diluar karier sekarang? Adakah dari hobi atau kegiatan tersebut yang akhirnya membukakan jalan ke peluang berharga?
Hobi selain berorganisasi adalah renang dan selam, juga berdiskusi dengan orang-orang baru. Renang dan selam merupakan kegemaran pribadi karena menemukan relaksasi dan ketenangan saat melakukannya. Saat kunjungan kerja ke daerah terkadang saya menyempatkan trip singkat ke pantai sekitar untuk meluangkan hobi tersebut. Saat malam saya tidak haya menghabiskan waktu di dalam kamar hotel, namun saya sering bercengkrama dan berdiskusi ringan di warung lokal dengan masyarakat/wirausaha lokal daerah tersebut. Dari hal tersebut ternyata saya bisa mendapatkan mitra kerjasama logistik untuk usaha yang saya tekuni, seperti di Bali, Bitung, Ambon, Ternate, Makasar, Nusa Tenggara dan Jayapura.

Last question, pelajaran hidup apa yang ingin Kak Adit bagi kepada para pemuda, khususnya AIKUNers?
Selalu merasa kecil, selalu merasa haus pengetahuan, banyak mendengar dan menghargai siapapun orang baru yang kita temui tanpa memandang profesi nya, dan banyak berbagi. Hidup sekali, Berarti!