Kabar Alumni: Amalia Novita Sari

Amalia2013

Ada yang berbeda dari anggota AIKUNA yang satu ini, walaupun sudah mendapat gelar master dari universitas terkemuka di luar negeri, ia ternyata masih memilih untuk tidak stick kepada satu profesi saja alias menjadi freelancer/part-timer. Apa alasannya? Simak bincang-bincang AIKUNA kali ini dengan Amalia Novita Sari, alumni tahun 2013.

Hi Kak Amal, sedang sibuk apa sekarang?

Sekarang ini aku sibuk bekerja, seperti biasa. Aku ngajar bahasa Inggris di beberapa tempat, dan semuanya part-time/freelance. Yang pertama, aku mengajar di Australia Centre Medan (ACM). Di sini aku biasanya ngajar General English dan Academic English, walau kadang diminta ngisi kelas IELTS Preparation kalau ada guru yang sedang off. Selain di ACM, aku juga ngajar Business English dan English for Professional Development  di jurusan Manajemen salah satu kampus swasta di Medan. Aku juga kerja sama dengan lembaga pendidikan bahasa Inggris lain sebagai out-reach teacher. Tiga bulan terakhir diamanahin ngisi program IELTS Preparation di UIN Sumatera Utara. Selain jadi guru bahasa Inggris di bawah lembaga, aku juga punya beberapa kelompok belajar privat yang umumnya fokus ke persiapan IELTS. Selain mengajar, kadang-kadang aku menterjemah atau mem-proofread laporan penelitian yang akan diterbitkan di jurnal internasional/proceeding  atau thesis mahasiswa (umumnya S2). Di sela-sela itu semua, aku juga aktif di kegiatan organisasi sosial dan kepemudaan di Medan bersama PCMI dan LPDP. Sejak setahun belakangan aku juga aktif sebagai penasehat dan pengawas pelaksanaan program di Yayasan Bangun Bahari (YBB), sebuah yayasan sosial kemasyarakatan untuk pemberdayaan masyarakat pesisir (nelayan). YBB punya program yang sudah berjalan selama hampir 4 tahun, namanya Perpustakaan Terapung (boleh cek instagramnya @perpustakaan_terapung).

Semakin ke sini justru aku semakin enggan untuk kerja full-time di satu tempat. Menurutku jadi part-timer/freelancer lebih memberikan ruang untuk mengerjakan banyak hal (yang aku suka), baik dalam hal pekerjaan maupun di luar pekerjaan. Mungkin agak bertentangan dengan kebanyakan anak muda yang ingin stabilitas atau penghasilan yang tetap, (untuk saat ini) aku lebih memprioritaskan fleksibilitas, variasi dan ruang untuk berkontribusi. Walau bekerja part-time cukup berat, karena resikonya adalah aku harus bekerja di beberapa tempat agar bisa memenuhi tuntutan kebutuhan dan income yang besarannya tidak tentu (lain lagi kalau ditanya, “kamu kerja dimana”? #bingung mau mention yang mana. hahaha), aku merasa benefit yang aku dapat cukup worth it, karena aku bisa meng-explore minat dan bakatku di samping menebar lebih banyak manfaat bagi anak-anak dan pemuda di daerahku.

Kak Amal passion-nya di pendidikan ya Kak? Kenapa pendidikan?

Dulunya mamak (panggilan umum orang Sumut untuk ibu) pingin aku jadi dokter (tipikal sih yaa), dan aku sempat berdebat lumayan sengit dengan beliau saat akan memilih jurusan di perguruan tinggi. Walau akhirnya mamak bisa menerima dengan lapang dada kalau anak pertamanya nggak mau jadi ‘orang hebat’ (di sini itu kalau anaknya jadi dokter dianggap hebat, nggak tau deh di bagian Indonesia lain gimana), sampai sekarang kalau aku cerita soal mirisnya nasib guru di daerah ke mamak, beliau masih suka ngeledekin aku sambil bilang “yang nyuruh kau jadi guru siapa? (baca: “kamu sendiri kan yang mau jadi guru”).

Ada beberapa alasan kenapa aku memilih jadi guru walau sempat ditentang oleh keluarga dan orang sekitar. Alasan pertama sangat realistis. Dulu waktu SMA, karena kondisi perekonomian keluarga yang cukup sulit, aku nggak tau aku bisa ngelanjutin pendidikan ke bangku perkuliahan atau nggak. Namun alhamdulillah di semester akhir kelas 3 mamak bilang bahwa aku bisa kuliah. Dari situ aku baru mulai berpikir aku mau belajar apa. Walau duduk di kelas unggulan, aku bukan termasuk siswa yang ‘pintar’. Satu-satunya mata pelajaran yang aku suka dan kuasai adalah bahasa Inggris. Saking sukanya dengan bahasa Inggris, ditambah keinginan agar lebih banyak orang juga suka dan bisa berbahasa Inggris, aku memutuskan untuk berkuliah di jurusan pendidikan bahasa Inggris di Universitas Negeri Medan. Ditambah lagi, aku punya adik yang umurnya setahun lebih muda (tahun depannya mau kuliah juga), jadi kalau aku kuliah di Medan yang cuma tiga jam dari kampungku, mudah-mudahan bisa menekan biaya yang harus dikeluarkan oleh keluarga.

Setelah berkecimpung di dunia pendidikan dan belajar banyak tentang dinamika pendidikan kita, aku semakin yakin dengan pilihanku. Pendidikan adalah salah satu pilar utama yang menyokong suatu negara, dan pendidikan yang baik adalah investasi yang paling menjanjikan untuk masa depan negara. Contoh kecilnya, ayah dan ibu yang terdidik dengan ilmu dan akhlak yang baik akan menghasilkan anak-anak yang terdidik, dan anak-anak yang terdidik dengan baik akan menjadi pemimpin masa depan yang juga berilmu dan berakhlak baik. Sebagai salah satu warga negara yang telah merasakan nikmatnya ‘high-quality education’, aku punya harapan untuk bisa membantu mewujudkan pendidikan yang demikian untuk anak-anak Indonesia. Namun ini bukan hal mudah, karena pendidikan kita punya masalah yang luar biasa kompleks. Oleh karena itu, saat ini aku berfokus ke pendidikan manusia secara individu, sambil memperluas lingkaran pengaruhku agar perlahan bisa memberikan impact ke lingkup yang lebih besar.

Dan alhamdulillah, justru sekarang mamak dan orang-orang terdekat sangat mendukung semua kegiatanku, baik kegiatan pendidikan formal yang menjadi profesiku, maupun kegiatan pendidikan luar sekolah yang aku kerjakan di waktu luang.

amal

Amal -tengah, jilbab coklat- bersama anak didik di kampus

Seberapa penting sih Bahasa Inggris menurut Kak Amal?

Meski bahasa Inggris bukan bahasa dengan jumlah penutur terbanyak di dunia saat ini (nomor 3, setelah bahasa Mandarin dan Spanyol, menurut British Council (2013)), bahasa Inggris adalah bahasa yang paling banyak diajarkan di penjuru dunia. Bahasa Inggris punya peranan sentral dalam globalisasi, karena bahasa yang menjadi means of commuication dalam apa yang biasa kita sebut ‘going global’ adalah bahasa Inggris. Informasi umumnya lebih banyak tersedia dalam bahasa Inggris. Contoh sederhananya, kalau kita input kata kunci dalam bahasa Inggris di search engine seperti Google atau Yahoo!, maka otomatis hasil yang kita dapat akan lebih banyak daripada apabila kita input kata kunci dalam bahasa Indonesia. Selain itu, dalam pendidikan Indonesia, bahasa Inggris juga salah satu bidang yang diuji dalam ujian kelulusan. Banyak instansi yang mewajibkan calon pegawainya memiliki standar kompetensi bahasa Inggris yang cukup tinggi, ditambah lagi ‘demam’ beasiswa luar negeri yang belakangan mulai marak di Indonesai, dimana kemampuan berbahasa Inggris yang baik menjadi salah satu syarat utama untuk bisa lolos seleksi.

Tidak bisa kita pungkiri bahwa dalam skala global dan nasional, bahasa Inggris punya peranan yang penting. Namun, pendidikan bahasa Inggris di Indonesia sendiri, seperti halnya pendidikan secara menyeluruh, masih butuh banyak pembenahan. Awalnya aku sangat ‘menggebu-gebu’ untuk mengajak lebih banyak orang belajar bahasa Inggris, dalam hal ini bahasa Inggris yang baik dan bukan bahasa Inggris ‘asal-asalan’. Namun, belakangan setelah lebih banyak belajar, aku mulai aware dengan faktor-faktor lain dalam pembelajaran bahasa Inggris secara global, dalam hal ini faktor sosial dan politik. Aku mulai sadar akan pentingnya relevansi dan konteks dalam pembelajaran, dan pentingnya kesadaran akan peran bahasa (Inggris) dalam pembentukan konsep-konsep dan kesenjangan sosial. Meskipun hal ini masih menjadi perdebatan, namun praktek-prakter dan retorika yang mendukung pentingnya bahasa Inggris juga berdampak negatif terhadap masyarakat. Kita bisa lihat sendiri, kebanyakan anak-anak Indonesia sudah belajar bahasa Inggris sejak usia balita, namun justru tidak diajarkan bahasa daerah di rumah maupun di sekolah. Maka, sekarang aku juga menekankan critical literacy atau literasi kritis dalam pembelajaran bahasa Inggris, sehingga teman-teman dan anak-anak didikku sadar ada sisi positif dan negatif dari penyebaran bahasa Inggris sendiri.

Dengar-dengar, Kak Amal juga memulai bisnis ya? Bagi cerita dan kiat-kiat bekerja sambil berbisnis dong Kak.

Bisnis kecil-kecilan yang sekarang sedang aku rintis ya itu, usaha jasa penerjemahan dan proofreading. Namanya SA Language Services (SA singkatan dari Sagara Abhipraya, bahasa Sanskerta artinya harapan bahari). SA Language Services aku bentuk sebagai unit usaha di bawah Yayasan Bangun Bahari, dimana 10% dari profit yang didapat aku sumbangkan untuk membantu operasional yayasan. Sekarang ini kantor temanku menjadi client utamaku, di samping itu aku juga minta tolong di-endorse oleh keluarga dan teman-teman terdekat yang sedang studi di luar dan dalam negeri, sehingga kadang aku juga mendapat job untuk proofread thesis atau esai mahasiswa S2. Alhamdulillah, walau perlahan dan ada pasang surut, usahanya berjalan dengan baik. Setelah kemarin mem-proofread beberapa manuskrip salah satu jurnal internasional terbitan UI, target dalam waktu dekat adalah untuk bisa mendapat proyek lebih besar, seperti konferensi internasional.

Memulai bisnis memang bukan hal mudah, apalagi buat teman-teman yang  sepertiku, nggak punya background pendidikan ekonomi/bisnis. Men-juggle antara pekerjaan dan bisnis itu berat, jadi selain kompeten di bidang itu, kita juga harus bisa enjoy the whole process. Saran yang saat ini bisa aku kasih buat teman-teman yang ingin bekerja sambil memulai usaha sendiri adalah apapun pekerjaan dan usaha yang ingin kamu lakukan di saat bersamaan, “love what you do, and be the best at what you do”. Apalagi usaha yang produknya jasa seperti yang aku jalanin, kepuasan client itu sangat penting. Membuat client puas dengan kerjaan kita itu menjamin the job keeps coming. Selain itu, hal ini juga menjadi means of publicity yang paling efektif, karena client yang puas akan endorse kita secara suka rela ke rekan mereka yang membutuhkan jasa yang sama.

Amal dan counterpart-nya saat IKYEP 2013

Kak kita flashback ke program ya. Boleh diceritain ngga unforgettable moment dari IKYEP 2013?

Di fase Korea dulu delegasi Indonesia diajak berkunjung ke sebuah museum pendidikan tempo dulu di kota Gimpo. Museum ini dikelola oleh pasangan nenek dan kakek yang sama-sama pensiunan guru. Karena nenek mengalami gangguan penglihatan yang lumayan parah dan nggak bisa mengajar di sekolah formal, akhirnya kakek membuat museum ini dan menyediakan sebuah ruangan kelas khusus untuk nenek dan kakek mengajar. Ruangannya diisi dengan meja dan kursi belajar kayu layaknya ruangan kelas jaman dulu. Delegasi Indonesia sempat duduk di ruangan kelas dan belajar membaca tulisan Korea (Hangul). Momen ini bagiku merupakan salah satu momen paling berkesan dari rangkaian program IKYEP 2013.

Ketika program Kak Amal menjadi Assistant Youth Leader ya? Boleh diceritakan kah apa yang dilakukan seorang AYL?

Tugas utama AYL adalah membantu Youth Leader menjalankan tugasnya, mulai dari berurusan dengan pihak di luar delegasi maupun hal-hal yang berkaitan dengan anggota delegasi. Aku sendiri selama program lebih banyak ngurusin internal delegasi seperti bikin laporan harian dan memastikan semua anggota delegasi lengkap dan dalam kondisi maksimal selama program.

Satu kalimat singkat tentang IKYEP:

IKYEP is more than just an exchange program, it changes your perspective about the world, and more importantly, about yourself.   

Boleh dong Kak dibagi motto Kak Amal dan pesan-pesan untuk pemuda Indonesia.

Aku nggak punya motto khusus dalam  menjalani hidup. Cita-citaku sederhana, cuma ingin bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk makhluk Tuhan lainnya, melalui hal-hal yang aku suka. Mungkin pesan yang ingin aku sampaikan ke anak-anak muda yang masih mencari  jati diri adalah: find your passion and make it your profession. Hal ini nggak mudah, karena mungkin cuma sedikit orang yang beruntung bisa menjadikan passionnya sebagai profesi. Tapi bukan nggak mungkin kamu bisa melakukan beberapa hal di saat yang bersamaan, dan salah satu (atau kebanyakan) di antaranya adalah passion kamu.