Kabar Alumni: Andi Muttya Keteng

Alumni IKYEP memang sangat beragam latar belakang budaya, pendidikan dan profesinya. Salah satu alumni yang memilih jalan profesi menarik adalah Andi Muttya Keteng, alumni tahun 2012 asal Sulawesi Selatan. Kak Muttya, begitu ia kerap disapa, merupakan jurnalis yag sudah meng-cover begitu banyak jenis berita. Simak cerita Kak Muttya yang berbagi kisah suka dukanya sebagai jurnalis dalam artikel berikut.

Halo Kak Mutya, untuk memulai interviewnya mungkin boleh diceritakan Kak saat ini sedang menjalani kesibukan apa?
Saya lagi sibuk sama kerjaan sebagai jurnalis di salah satu media online. Hampir tiap hari keliling Jakarta, liputan beragam agenda, wawancara banyak narasumber, bikin 12 artikel sehari. Boleh dibilang kerjaanku tak kenal batas waktu. Kadang dari pagi sampai malam, kadang siang/sore sampai dini hari. Kadang juga lagi libur, tapi terpaksa masuk. Kalau dibilang sibuk, sibuk hehehe. Pas sampai rumah yang dipikir cuma tidur. Pas waktu libur, males keluar rumah gara-gara sudah keseringan di jalan. Jadi selain kerja, saya tidak punya kesibukan lain. 

Bersama host family saat program

Kalau kita flashback ke program, kira-kira hal apa sih dari IKYEP yang dapat dipelajari hingga turut berpengaruh ke diri Kakak hingga ke karir kakak ini?
Banyak sih. Di IKYEP saya pertama kali belajar tari Saman, terus latihan nyanyi, latihan segala macam. Saya pribadi sama sekali belum pernah menari Saman sebelumnya. Biasanya cuma lihat di televisi, kayaknya gampang, gerak-gerak tangan sama kepala. Pas dipraktekkan, ampun susahnya. Bukan karena gerakannya, tapi karena bangun kekompakannya yang sulit. Belum lagi harus latihan sampai tengah malam sampai lutut lecet. Di situ saya belajar sabar sama pantang menyerah. Terus segala kegiatan diatur, ada jadwalnya. Bangun, makan, latihan, olahraga, dll. Harus selalu pakai attire yang rapi dan lengkap. Saya belajar disiplin. Ketemu orang-orang baru, teman-teman dari beragam suku bangsa, sampai yang beda negara dan bahasa. Di situ saya belajar sosialisasi, mengasah komunikasi. Berkunjung ke tempat baru a.k.a negara orang, belajar pertunjukan tari di Yogyakarta, ketemu budaya baru lagi. Saya belajar menghargai, belajar memahami, belajar hal baru.

Dalam jurnalistik, bidang yang kakak terjuni, sering kali kita dapati informasi asimestris di dunia maya atau sering disebut hoax, menurut kakak hoax ini gimana sih?
Hoax itu ya kabar bohong. Umumnya dipakai orang-orang atau kelompok tertentu buat memfitnah, menjatuhkan, membuat malu, atau bahkan cuma sekadar lucu-lucuan.

Dengan latar belakang Kakak di jurnalistik, ada hal khusus enggak sih Kak supaya kita bisa memilah berita yang valid dan yang hoax?
Kalau di jurnalistik ada yang namanya verifikasi, cover bothside. Jurnalis harus terlatih jangan mudah percaya informasi yang didapat, harus punya filter di kepala. Selalu cek dan ricek dulu sebelum disebarkan jadi berita. Menurutku mental itu yang harus dipelihara sama masyarakat sekarang. Sekarang orang dengan gampangnya sebar info, ada broadcast sedikit, langsung di-share. Ada rumor sedikit, langsung percaya. Padahal harusnya kita baca dulu, telaah dulu logis tidak? Liat dulu sumber informasinya bisa dipercaya tidak? Kasih kesempatan otak kita mencerna informasi dulu baru kita sebarkan. Misalnya saya yang kerja di kanal hiburan. Yang namanya gosip itu mengalir deras dari mana saja. Ditambah muncul akun-akun gosip di media sosial. Tapi bukan berarti percaya begitu saja. Tugas jurnalis, terutama hiburan, bukan sebagai penyebar gosip atau isu, tapi untuk meluruskan kabar burung. Mencari kebenaran apakah rumor itu benar fakta atau cuma hoax.

Anak muda kan agen perubahan ya Kak, menurut Kakak sendiri, hal apa yang harus dilakukan oleh anak muda di Indonesia untuk mereduksi agar hoax yang muncul tidak berkepanjangan Kak? 
Banyak baca, banyak diskusi. Menurutku, segala sesuatu harus dimulai dari diri sendiri. Saya orang yang percaya, kalau mau mengubah society, diri kita dulu yang harus diubah. Jadi mumpung masih muda, pikiran masih fresh, perbanyak ilmu. Semakin kita tahu banyak, saya yakin kita semakin mudah memilah informasi. Jadi tidak gampang dibodoh-bodohi sama hoax. Mulai saja dari hal sederhana, jangan biasakan sebar broadcast yang kebenarannya belum pasti. Apalagi anak-anak muda sekarang identik dengan media sosial. Kalau punya bekal ilmu, umumnya orang lebih bijak menggunakan media sosial dan menyerap informasi.

Saat ini dunia informasi sudah berkembang dan memasuki era digital karena informasi sudah sangat mudah didapatkan. Bagaimana Kakak menanggapi era komunikasi digital saat ini?
Era komunikasi digital itu sebenarnya sangat memudahkan orang sekarang berinteraksi. Kalau buat saya jurnalis media online yang deadlinenya tiap detik yang dituntut selalu harus cepat, itu sangat-sangat membantu, punya banyak manfaat pokoknya. Tapi perkembangan komunikasi digital harus dihadapi dengan pikiran yang terbuka dan berbekal wawasan. Karena kalau tidak, bisa jadi kita keliru memanfaatkannya. Misalnya, digunakan buat sebar hal-hal negatif, buat menipu, atau semacamnya. Belum lagi karena informasi yang tersebar lewar platform digital kan susah disaring. Jadilah mudah tertipu sama kabar bohong. Sekarang, hoax berserakan di media sosial, bikin menyesatkan.

Muttya (berbaju hitam) saat mengikuti kegiatan presiden Joko Widodo

Kalau anak muda ingin berkontribusi, hal seperti apakah yang cocok untuk diterapkan di Indonesia saat ini?
Kalau maksudnya berkontribusi untuk memberantas hoax, sebenarnya sudah banyak gerakan-gerakan anti-hoax dan semacamnya akhir-akhir ini. Banyak hal-hal kreatif yang bisa dilakukan, kampanye, bikin karya musik atau film. Karena menurutku, cara ampuh memengaruhi orang itu lewat seni atau budaya karena lebih ringan diterima otak daripada seminar atau diskusi berat. Buat sebuah karya seni budaya, sisipkan pesan positif, misalnya anti-hoax. Tapi sebenarnya tidak perlu terlalu ribet bikin gerakan, aksi, kampanye semacamnya. Karena balik lagi, kalau mau menghentikan hoax sebaiknya mulai dari diri sendiri. Kalau kita saja masih suka langsung percaya, langsung share broadcast tidak jelas, bagaimana kita bisa mengajak orang lain buat stop sebar hoax? Berpikir sederhana saja dulu.

Melihat pengalaman Kakak yang cukup panjang di industri media, adakah suka dan duka bekerja di industri media Kak? 
Suka dukanya banyak. Lima tahun jadi jurnalis banyak pengalaman menarik dan pelajaran yang saya petik, yang sulit didapat di bangku sekolah atau kuliah. Saya pernah ada di desk megapolitan, nasional, sampai hiburan. Liputannya beragam, kadang meliput pemerintahan, kesehatan, ekonomi, kriminal, politik, musik, film, sampai gosip. Dari yang (maaf) takut lihat mayat atau orang berdarah-darah, lama-lama jadi terbiasa karena sudah sering. Liputan 24 jam di DPR, dari pagi ketemu pagi cuma nunggu wakil rakyat berdebat. Lari rame-rame kejar Jokowi yang tiba-tiba turun di gorong-gorong sampai disemangati sama pengguna jalan yang lagi kena macet, macam orang marathon. Liputan operasi tangkap tangan di KPK dini hari sampai penggeledehan di MK sampai jam 7 pagi. Ditolak narasumber, kadang diomeli. Berkutat dengan bundelan tebal APBD DKI, nulis soal anggaran daerah sampai pusing sendiri. Sering lupa makan karena sibuk ikutin Jokowi blusukan. Liputan banjir yang ketinggiannya sampai perut, turun ke lokasi banjir yang airnya hitam dan bau amis. Naik perahu sama TNI susuri kana,l dll. Kalau di kanal hiburan beda lagi. Harus lebih sabar karena agenda bisa ngaret 2 – 3 jam. Lebih sabar lagi hadapi artis atau manajernya yang kurang ramah. Liputan sidang cerai artis. Tapi serunya kita selalu jadi orang pertama yang nonton film baru sebelum dirilis, bebas nonton konser pula. Bisa wawancara artis mancanegara face to face, apalagi kalau kebetulan ngefans. Bisa liputan premier film, konser, atau pertunjukan teater di luar negeri. Ngunjungin museum dan pameran lukisan atau seni kontemporer. Boleh dibilang banyak dukanya, tapi kalau dipikir-pikir lagi, yang awalnya dianggap duka bisa jadi suka atau malah seru.

Muttya (pojok kanan) meliput Presiden Jokowi saat mendatangi lokasi banjir

Jadi jurnalis mengasah mental saya jadi lebih kuat, tidak gampang mengeluh. Jadi jurnalis juga bikin saya jadi tahu banyak hal karena dituntut selalu belajar hal baru tiap hari. Jadi tahu soal pemerintahan, ekonomi, politik, fashion, sains, hukum, seni & budaya, sedikit tentang olahraga, teknologi, atau otomotif. Saya dituntut untuk bisa paham segala hal, paling tidak permukaannya, karena untuk bertanya ke narasumber atau menulis artikel, seorang jurnalis harus sudah punya bekal di kepalanya, kalau tidak? Bisa dihempas sama narsum.

Pertanyaan terakhir, adakah nilai-nilai hidup yang ingin Kak Mutya bagi untuk para pemuda Indonesia?
Pemuda Indonesia, khususnya generasi millenial, jangan manja, jangan mudah mengeluh, terus kerja keras kalau punya mimpi, pantang menyerah, harus selalu ingin tahu.