Kabar Alumni: Hermawan Helmi

Kabar Alumni kali ini menghadirkan profil Hermawan Helmi, pemuda kelahiran Pontianak, 27 tahun lalu. Disebut oleh teman-teman angkatannya sebagai delegasi paling pekerja keras, Kak Wawan, begitu ia kerap dipanggil, sampai kini terus melanjutkan etos kerjanya itu ke dunia profesional.

Setelah melakukan presentasi untuk founder Kalbe Group, Boenjamin Setiawan

Setelah melakukan presentasi untuk founder Kalbe Group, Boenjamin Setiawan

Kak Wawan katanya bekerja di bidang kesehatan dan berhubungan dengan perawatan luka, boleh bagi ceritanya ke kita Kak mengenai profesi Kakak?
Perawatan luka sebenarnya bukan merupakan kompetensi saya sebagai seorang apoteker, akan tetapi tuntutan pekerjaan mengharuskan saya untuk belajar tentang bidang ini. Saya benar-benar mulai belajar dari basic dan alhamdulillah sekarang sudah cukup memahaminya. Sampai sekarang sering kali masalah luka masih dianggap sepele, padahal tidak sedikit kasus luka yang menjadi pemicu terjadinya amputasi bahkan hingga kematian. Perawatan luka itu sendiri ada macam-macam fokusnya. Nah, saya fokus kepada perawatan luka dengan konsep yang disebut moist wound healing yang masih belum dipahami secara holistik di indonesia. Luka disini adalah luka kecil, seperti misalnya luka gores, luka bakar, luka diabetes, dll. Jadi mendalami hal ini juga memberikan saya begitu banyak pengetahuan baru yang dulunya tidak pernah saya bayangkan.

Kenapa Kakak memutuskan untuk banting setir bekerja di bagian marketing, padahal Kakak sudah sampai menyelesaikan pendidikan profesi apoteker?
Saya lebih tertarik didunia marketing, terutama branding, karena ruang lingkupnya luas sekali sehingga banyak hal baru yang bisa saya pelajari dan saya explore. Tujuan utama saya adalah mempelajari sistemnya sebagai modal wirausaha yg sedang saya kembangkan.

Plus minus yang Kakak rasakan dalam bekerja sebagai manager itu apa Kak?
Wah macam-macam ya. Tapi ya misalnya plusnya adalah banyaknya peluang yang saya dapatkan untuk berkreasi. Lalu juga kesempatan untuk bisa menjadi decision maker, belum lagi relasi yang terus bertambah karena pekerjaan yang mengharuskan saya terus berhubungan dengan berbagai pihak. Dan mungkin juga saya rasa yang tidak kalah penting adalah proses belajar tentang people management. Kalau kekurangannya yang paling terasa adalah waktu yang luar biasa banyak tersita untuk pekerjaan. Quality time untuk keluarga dan kerabat menjadi lebih minim. Itu sih yang paling dirasakan.

Dengar-dengar Kak Wawan ini adalah sosok pencetus nama AIKUNA ya? Gimana sih ceritanya dan apa filosofi dibalik nama AIKUNA?
Hahaha, sebenarnya tidak ada filosofi yang spesifik. Saat itu kami (read: delegasi IKYEP 2011) baru saja menyelesaikan program. Hari terakhir di fase Indonesia kami habiskan di Jakarta dan lanjut ke fase re-entry di salah satu hotel di kawasan Jakarta Selatan.  Di hotel itulah kami berkumpul dengan beberapa alumni IKYEP batch pertama dan membahas tentang wacana pengorganisasian alumni IKYEP, salah satunya membahas opsi nama organisasi alumni yang ingin kami dirikan. Waktu itu terlintaslah dipikiran saya kata EUREKA, kemudian saya coba pikirkan kata lain yang berima serupa dengan kata tersebut. Setelah saya coba susun akronim dari Alumni Indonesia-Korea Youth Exchange Program, tercetuslah kata AIKUNA. Gampang diucapkan dan enak didengar. Kami sempat coba cek online untuk mencari tahu apakah kata ini ada artinya dan jika ada artinya jangan sampai merupakan arti yang tidak baik. Ternyata tidak ada. Juga tidak ada yang menggunakan kata ini. Jadi kami putuskan untuk menggunakan AIKUNA sebagai nama organisasi IKYEP. Syukurlah ternyata nama ini diterima terus sampai organisasinya dilegalkan secara hukum, hehehe..

IMG_8257

Adakah hal lucu yang terjadi saat Kak Wawan menjalankan program pada tahun 2011?
Hal lucunya adalah konflik antar peserta hahaha.. Banyak hal rusuh yang terjadi, tapi malah bikin kami tertawa-tawa dan semakin menerima watak satu sama lain. Salah satu yang paling berkesan adalah salah satu saudara kami yang notabenenya mahasiswa jurusan sastra tiba-tiba hilang sendiri. Saat dia kembali, dengan panik kami semua menanyakan keberadaannya. Dengan santai dia menjawab ”Orang sastra harus menikmati suasana.”, hahaha.. Sampai sekarang tiap kali angkatan 2011 kumpul-kumpul, kami pasti selalu mengingat kejadian ini.

Bagaimana bentuk kontribusi dari pengalaman Kakak mengikuti IKYEP terhadap kehidupan kerja sekarang?
Ada banyak sekali. Tapi saya rasa yang utama adalah IKYEP membuat saya menjadi individu yang lebih open minded.

Ada kata-kata bijak yang berbunyi “Challenges are what make life interesting; overcoming them is what makes life meaningful”. Apa sih tantangan (hidup) terberat yang pernah Kak Wawan alami dan bagaimana cara Kakak menghadapinya?
Tantangan terberat adalah menerima kenyataan bahwa saya harus mengikuti pilihan orang tua untuk studi saya. Sebenarnya passion saya lebih ke seni perfilman. Jadi dulu saya awalnya ogah-ogahan kuliah farmasi. Dua semester awal yg merupakan semester basic malah IPK saya hanya di 2.00. Baru di semester ketiga saya mengalami turning point, dimana saya sadar bahwa saya bisa tetap menjalankan passion saya di perfilman sebagai hobi walaupun saya tidak bisa kuliah di bidang tersebut. Saya pernah juara 3 tingkat nasional di script writing competition dan ini merupakan kebanggan tersendiri bagi saya yang bukan mahasiswa perfilman, hehe.. Kehidupan dan pekerjaan bukan ditentukan oleh educational background saja melainkan apa yg kita inginkan.

Pesan apa yang ingin Kak Wawan sampaikan untuk anak muda Indonesia?Kita semua masih muda, niat saja tidak cukup tapi harus ada Plan-Do-Check-Action. Waktu tidak bisa diulang dan waktu tidak akan menunggu kita.