Kabar Alumni: M. Fidhzariyan Kusuma Utama

Sosok alumni yang satu ini terlihat tenang dan pendiam. Namun sebenarnya, Muhammad Fidhzariyan Kusuma Utama atau yang akrab disapa Aya ini adalah seseorang yang sangat menyenangkan untuk menjadi teman mengobrol dan tukar pikiran, apalagi jika topiknya mengenai hal-hal yang bisa dilakukan pemuda untuk berkontribusi bagi kemajuan negeri ini. Tak heran, Aya memang sangat aktif dengan berbagai organisasi dan kegiatan kepemudaan. Bahkan kini Ia sedang serius menjalani bisnis sosial bersama dua rekannya dalam bidang voluntourism. Simak oborolan singkat kami bersama Aya dibawah ini.

 

Aya bersama orang tua saat wisuda S2 di Manchester

Pertama-tama, selamat ya Kak Aya, sudah resmi menyelesaikan studi S2 di Manchester University. Kemarin ambil jurusan apa ya Kak? Fokusnya lebih kemana?

Halo, terima kasih atas ucapannya. Aku sudah menyelesaikan studi di University of Manchester, jurusan MSc International Development: Environment, Climate Change, dan Development. Singkatnya, aku belajar tentang persinggungan antara aspek saintifik, sosial, politik, dan ekologi dari isu perubahan iklim. Karena spektrum isu tersebut cukup luas, aku fokus mempelajari proses dan dinamika dalam inklusi kebijakan lingkungan hidup untuk mengatasi dampak perubahan iklim di sektor industri, khususnya pariwisata. Saat disertasi, aku menulis tentang usaha pemerintah pusat dan daerah dalam mengadopsi prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan dalam mengembangkan destinasi pariwisata di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. 

Bisa ceritakan tentang bisnis sosial Kak Aya, Travelshare.id? Kenapa saat di Manchester kemarin Kak Aya tergugah untuk membuat Travelshare.id? Apa pemantik utamanya?

Travelshare adalah platform digital yang menjual paket voluntourism berbasis skill di desa-desa wisata Indonesia. Voluntourism sendiri adalah kegiatan sosial/kesukarelawanan yang dilakukan saat sedang berwisata. Misalnya, kita berjalan-jalan di sebuah desa wisata sambil meluangkan waktu untuk mengajar bahasa Inggris kepada tour guide lokal dari desa tersebut. Jadi, selain kamu mendapat pengalaman berwisata yang otentik, masyarakat lokal juga bisa mengakses skill dan pengetahuan baru secara mudah dan gratis dari wisatawan. Win-win solution, bukan? Pemantik utama Travelshare adalah pertemuan saya dengan dua orang mahasiswa Indonesia di Manchester yang memiliki idealisme sama, namun latar belakang pendidikan dan profesi berbeda, untuk mengembangkan potensi wisata daerah di Indonesia. Kami bertiga berkomitmen untuk mengikuti lomba bisnis sosial berbasis digital yang diadakan oleh Telkom Indonesia mulai dari Juni-Agustus 2017. Jadi disela-sela mengerjakan disertasi dan berorganisasi di PPI Greater Manchester, kami meluangkan waktu untuk berdiskusi dan mempersiapkan ide bisnis tersebut. Tanpa dua orang rekan tersebut, aku rasa cukup sulit untuk mengembangkan ide bisnis sosial ini. 

Travelshare.id kan sudah ikut berbagai ajang kompetisi berkelas, bahkan menyabet sederet gelar juara. Bagaimana perasaan Kak Aya tentang ini terkait tantangan-tantangan yang akan semakin besar?

Alhamdulillah, Travelshare berhasil meraih Juara 2 dalam kompetisi Socio Digi Leaders 2017 yang diadakan oleh Telkom Indonesia pada bulan Agustus lalu. Aku dan tim cukup senang karena proses seleksi di kompetisi bertaraf internasional ini cukup ketat, mulai dari seleksi Top 100 sampai dengan Top 5. Sebagai juara 2, kami mendapat hadiah dari Telkom untuk melakukan benchmarking ke start-up center dan kantor venture capital di Hong Kong, yang merupakan salah satu pusat pengembangan start-up di Asia Pasifik. Sejujurnya aku merasa tertantang untuk terus berproses dan menyelesaikan berbagai hambatan dalam mengembangkan ide Travelshare. Rencananya pada bulan Februari kami akan meluncurkan pilot project voluntourism di Yogyakarta. Mohon doa dan dukungan agar project kami lancar dan memiliki dampak ekonomi-sosial untuk desa-desa wisata di Indonesia!

Apakah IKYEP dan AIKUNA ikut punya andil baik secara langsung atau tidak langsung dalam proses lahirnya Travelshare.id?

Tentu saja. Saat mengikuti program IKYEP dan berorganisasi di AIKUNA, aku selalu didorong untuk menjadi pemuda yang aktif dalam berpikir dan bertindak untuk menyelesaikan, paling tidak, satu masalah sosial yang dihadapi oleh bangsa kita. Misalnya saat persiapan keberangkatan IKYEP 2014, ada satu aktivitas di mana calon delegasi harus melakukan observasi masalah sosial sambil menggunakan transportasi publik di sekitar Cibubur dan Terminal Kampung Rambutan. Nah, sesi ini cukup mengena karena saat program IKYEP aku jadi tergerak untuk melakukan observasi sosial kecil-kecilan di tempat-tempat yang dikunjungi. Dari fase Korea dan Indonesia, aku coba membandingkan kualitas atraksi dan pengelolaan desa wisata yang ternyata negara kita masih kalah jauh. Misalnya dari segi pengelolaan museum, pengemasan aktivitas tradisional, sampai jenis kuliner yang ditawarkan. Jadi, mulailah timbul pemikiran tentang bagaimana caranya agar pengelola desa wisata di Indonesia mendapat akses informasi dan pengetahuan yang lebih konkrit untuk meningkatkan kualitasnya. Kemudian aku memilih aktivitas voluntourism karena telah diakui secara global dapat memberikan empowerment terhadap aktivitas pariwisata berbasis komunitas di daerah.

Aya bersama Frilla, teman seangkatannya di IKYEP, mengenakan Hanbok saat di program

IKYEP sudah menghasilkan cukup banyak alumni sampai pada saat ini, terutama paling banyak pada angkatan Kak Aya di 2014. Apa harapan Kak Aya terhadap para alumni IKYEP baik untuk internal sesama AIKUNA maupun untuk eksternal ke masyarakat?

Aku berharap agar anggota AIKUNA dapat memperluas manfaat ke masyarakat dengan berkolaborasi, baik secara internal maupun eksternal, dengan orang-orang yang memiliki cita-cita sama, namun dengan skill sets yang berbeda. Tanpa adanya kolaborasi yang konkrit, ide yang kita miliki akan menjadi sebatas mimpi. Dan dengan bekerja sama dengan orang-orang dari latar belakang pendidikan/profesional yang berbeda, kita jadi lebih kaya pengetahuan dan siap untuk menyelesaikan tantangan yang dihadapi. Jadi, segeralah berjejaring, susun rencana aksi, dan eksekusi apapun ide sosial yang dimiliki. Aku pun saat ini masih terus berproses dan selalu mencari inspirasi dari anggota AIKUNA. Misalnya, aku berusaha untuk mencontoh konsistensi dan deteminasi Kak Endri, alumni IKYEP 2011, yang telah berhasil membangun sebuah yayasan sosial yang manfaatnya telah diakui secara nasional. Atau menjadi inovatif seperti Kak Fani, alumni IKYEP 2012, yang hasil karya kreatifnya telah berhasil menembus pasar internasional.

Jika ada satu hal dari para alumni IKYEP yang paling dapat menginspirasi pemuda-pemuda Indonesia kira-kira hal apakah itu menurut Kak Aya?

Inspirasi paling besar dari AIKUNA adalah semangat untuk berkarya dan berkontribusi dalam pembangunan masyarakat Indonesia di daerah. Kemanapun anggota AIKUNA pergi, baik itu menuntut ilmu di luar negeri ataupun bekerja di kota-kota besar, kita tidak lupa bahwa ilmu dan pengalaman yang didapatkan wajib diamalkan untuk kemajuan masyarakat Indonesia, terutama yang masih menghadapi permasalahan sosial dan ekonomi di daerah. Jadi, kultur dan semangat ini harus terus kita jaga dan tularkan kepada generasi-generasi muda di Indonesia.

IKYEP angkatan 2014

Terakhir, beri pesan dong Kak buat para pemuda Indonesia tentang bagaimana agar dapat mewujudkan bisnis sosial.

Menurutku, kuncinya adalah mau belajar dan ulet dalam mengeksekusi ide. Aku sendiri tidak punya latar belakang pendidikan bisnis/kewirausahaan. Saat memulai Travelshare, aku berusaha untuk belajar secara ototdidak tentang model-model bisnis sosial lewat internet, jurnal, ataupun berdiskusi dengan teman-teman/mentor yang belajar atau bekerja di bidang tersebut. Ilmu yang sedikit tersebut mulai coba aku praktekkan, dan apabila menemui kegagalan, aku coba ambil pelajaran dan diskusikan dengan orang lain untuk mendapatkan solusi yang lebih baik. Jadi, mewujudkan ide bisnis sosial sebenarnya cukup mudah. Namun yang paling sulit adalah bagaimana kita tetap positif dan konsisten dalam menghadapi tantangan dan kegagalan dalam proses membangun bisnis sosial tersebut. Mengutip kata mutiara favorit saya dari Confucius: “the greatest glory is not in never failing, but in rising everytime we fall.”